Senin, 22 November 2010

Laporan praktikum biologi dasar sistematika, anatomi dan fisiologi tikus (mus musculus) dan ikan nila (oreochromus niloticus)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Ikan nila (Oreochromis niloticus), nama internasionalnya nile tilapia berasal dari sungai Nil di Afrika. Ikan nila merupakan salah satu jenis ikan budi daya yang cukup dikenal baik secara nasional maupun internasional. Ikan nila menjadi terkenal karena memiliki banyak keunggulan. Keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh ikan nila yaitu mudah berkembangbiak, cepat pertumbuhannya, anaknya banyak, ukuran badan relative besar, tahan penyakit, sangat mudah beradaptasi, relative murah harganya dan dagingnya pun enak (Widiyati et al.1999).
Ikan nila sebagai pemakan plankton yang sifatnya cenderung omnivorous, artinya tidak memerlukan pakan yang khusus. Selain itu, ikan nila juga memiliki suatu kelebihan, yaitu ikan nila berkemampuan untuk dapat hidup pada rentang salinitas yang lebar shingga ikan nila dapat dibudidayakan di air tawar, payau, maupun di laut (Wardoyo,1997).
Di air tawar potensi pembesaran ikan nila di kolam san sawah sangat tepat terutama di luar Jawa di daerah pegunungan di mana sumber air yang masih berlimpah dan kompetisi peruntukan antar sector dan subsector belum terlalu ketat, misalnya di Sumatera Barat, Sulawesi Utara, Sumatera Utara, Bengkulu, Gorontalo, dan Sulawesi Tenggara. Sedangkan pengembangan di perairan umum cocok dengan system budi daya keramba Jaring dan Keramba biasa yaitu di provinsi-provinsi di luar Jawa yang banyak memiliki perairan umum (danau, rawa, perairan, bekas galian C, dan sungai), misalnya di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Bangka Belitung dan Jambi (Sarnita et al.2001).
Menurut saya, ikan nila (Oreochromis niloticus) adalah merupakan salah satu jenis ikan yang banyak dibudidayakan oleh para petambak. Ikan nila bertulangbelakang (vertebrata) dengan tubuhnya diselubungi sisik semua, di samping itu ikan nila juga memiliki gurat sisi.

1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dari praktikum biologi mengenai Sistematika, Anatomi, Fisiologi dan Morfologi pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus) yaitu agar praktikan dapat mengetahui tentang bagian-bagian daripada Ikan Nila.
Tujuan dari dilaksanakannya praktikum ini adalah agar pra praktikan dapat dan mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan mengenai bagian-bagian daripada Ikan nila.

1.3 Waktu dan Tempat
Praktikum biologi mengenai Sistematika, Anatomi, Fisiologi dan Morfologi pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus) ini dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 8 Oktober 2010 pukul 09.45 WIB – 11.15 WIB. Praktikum ini dilakukan di gedung C lantai 1 Laboratorium IIP (Ilmu – Ilmu Perairan), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan , Universitas Brawijaya, Malang.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ikan Nila
Ikan nila (Oreochromis niuloticus) adalah sejenis ikan konsumsi air tawar. Ikan nila ini, diintroduksi dari Afrika, tepatnya Afrika bagian timur, pada tahun 1969, dan kini menjadi ikan peliharaan yang populer di kolam-kolam air tawar di Indonesia (Anonymous,2010).
Ternyata ikan nila mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan, karena ikan nila ini mudah berkembangbiak, anaknya banyak, pertumbuhannya cepat, tahan penyakit, sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan dan rentang terhadap salinitas yang lebar, sehingga ikan ini dapat dibudidayakan di air tawar, payau, maupun di laut (Wardoyo,1997).
Ikan nila mempunyai tubuh yang berukuran sedang, sirip yang dorsal (punggung) dengan duri yang tajam, sirip dubur (anal). Tubuh berwarna kehitaman atau keabuan dengan beberapa pita gelap melintang (belang) yang makin mengabur pada ikan dewasa (Anonymous,2010).

2.1.1 Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Kelas (class) : Actinopterygii
Ordo : Perciformes
Familia : Cichildae
Genus : Oreochromis
Species : Oreochromis sp.
Spesies : Oreochromis niloticus
Spesies : Oreochromis niloticus
( Taksonomi, 1995 ).

2.1.2 Morfologi dan Anatomi Ikan Nila
Morfologi pada ikan nila yaitu berukuran sedang, dengan panjang total moncong hingga ujung ekor mencapai sekitar 30cm dan memiliki sirip di bagian punggung dan di bagian anusnya (Anonymous,2010).
Anatomi pada ikan nila yaitu tubuhnya berwarna kehitaman atau keabuan, dengan beberapa pita gelap melintang (belang) yang makin mengabur saat ikan nila dewasa. Ekornya bergaris-garis tegak. Tenggorokan, sirip dada, sirip perut, sirip ekor dan ujung sirip punggung. Sirip punggung (dorsal) memiliki duri yang tajam yang diikuti oleh jari-jari lunak atau bersekat umumnya bercabang. Sirip dubur (anal)memiliki duri dengan jumlah tiga. Sirip dada dan sirip perut yang berpasangan (Anonymous,2010).

2.1.3 Sistem Pencernaan
Sistem pencernann pada ikan nila terdiri dari dua bagian, yaitu saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Saluran pencernaan dimulai dari mulut-rongga mulut-faring-esofagus-lambung-pilorus-usus-rektum-anus (Zainu ahmad, 2010).

2.1.4 Sistem Ekskresi
Sistem ekskresi pada ikan nila yaitu :
Ikan nila memiliki system ekskresi berupa ginjal dan suatu lubang pengeluaran yang disebut lubang urogenital, yaitu suatu lubang tempat bermuaranya saluran ginjal dan yang berada di belakang anus.Ginjal pada ikan yang hidup di air laut memiliki sedikit glemelurus sehingga perisa hasil metabolism berjalan lambat dibandingkan ikan pada air tawar (Anonymous, 2010).

2.1.5 Sistem Reproduksi
Sistem reproduksi ialah sistem untuk mempertahankan spesies dangan menghasilkan keturunan yang fertil. Embriologi ialah urutan proses perkembangan dari zigot sampai pada anak ikan dst. Organ reprduksi daintaranya organ kelamin (gonad) menghasilkan sel kelamin (gamet) yaitu spermatozoa (gonad jantan), biasanya sepanjang kiri dan kanan lalu menghasilkan pula telur (gonad betina) yaiu ovari/ovarium. (ainun,2009 ).

2.1.6 Jenis dan Bagian Fungsi Sisik
1. Sisik Koloid
Hanya dijumpai pada ikan bangasa crossopterygi yang telah punah. Sisik ini
berlapis-lapis dimana lapisan terdalam terbangaun dari tulang yang memipih.
2. Sisik Gonoid
Diitemukan pada ikan suhu lepisosteidane dan polyteride. Sisik ini serupa dengan sisik kosmoid dengan sebuah lapisan gemoin terletak diantara lapisan kasmin dan enamed.
3. Sisik Plakoid
Dimiliki oleh ikan hiu dan ikan bertulang belakang rawan lainnya.
4. Sisik leptoid
Didapati pada ikan yang bertulang belakang keras dan memiliki 2 bentuk. Sisik

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum biologi tentang Sistematika, Anatomi, Fisiologi dan Morfologi pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus) adalah,
1. Sectio set
Seperangkat alat bedah untuk membedah ikan.
2. Nampan
Untuk wadah alat dan bahan.
3. Cover glass
Untuk menutup objek glass agar tidak bergerak saat dilakukan pengamatn.
4. Objek glass
Untuk meletakan sisik ikan yang akan diamati.
5. Mikroskop binokuler
Untuk mengamati sel darah ikan
6. Lap basah
Untuk mengkondisikan ikan saat proses pembedahan.
7. Beaker glass
Untuk wadah aquades
8. Pipet tetes
Untuk mengambil aquades dalam skala kecil.

3.2 Bahan dan Fungsi
Bahan yang digunakan dalam praktikum biologi tentang Sistematika, Anatomi, Fisiologi dan Morfologi pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus) adalah,
1. Ikan Nila
Untuk objek yang akan diamati morfologi , fisioliginya.
2. Aquades
Untuk menetesi sisik ikan yang akan diamati dibawah mikroskop.
3. Tissue
Untuk membersihkan alat- alat praktikum.
4. Air Kran
Untuk mencuci alat – alat praktikum.

3.3 Skema Kerja
Skema kerja yang digunakan dalam praktikum biologi tentang Sistematika, Anatomi, Fisiologi dan Morfologi pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus) adalah,

Disiapkan alat dan bahan
Diambil ikan nila dari aquarium
Dipindahakn ke nampan menggunakan lap basah
Diamati bagian morfologinya
Dibedah dengan section set mulai dari anus sepanjang garis linea
Lateralis samapi pangkal oprecium.
Diambil sisik ikan nila
Diletakan diatas objek glass
Ditetesi dengan aquades lalu ditutup dengan cover glass
Diamati di bawah mikroskop
Hasil

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Data Hasil Pengamatan
Data hasil pengamatn dalam praktikum biologi tentang Sistematika, Anatomi, Fisiologi dan Morfologi pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus) adalah,

4.2 Analisis Prosedur
Sebelum melakukan praktikum disiapkan alat dan bahan , dimana lat – alat yang digunakan adalh section set untuk membedah ikan, nampan untuk wadah alat dan bahan, cover glas untuk menutup objek glass, objek glass untuk alas mengamati sisik ikan, mikroskop binokuler untuk mengamati sirip ikan, lap basah untuk mengkondisikan ikan, beaker glass untuk wadah aqudes, pipet tetes untuk mengambil larutan aquades dalam skala kecil.
Bahan yang digunakan adalh ikan nila untuk diamati, aquades untuk menetesi sisik ikan nila yang akan diamati, tissue untuk membersihkan alat alat setelah praktikum, air kran untuk mencuci alat- alat praktikum.
Sebelum dibedah ambil ikan nila di aquarium, ssetelah itu diltakkan di atas meja laboratorium dengan menggunakan alas kain dengan bertujuan agar meja laboratorium tetap bersih. Lalu ikan nila di bunuh dengan cara di usuk pada bagin kepala atau pada bagian otak ikan nila tersebut karena medula oblongata menjadi sistem pusat saraf. Setelah itu sayat ikan menggunakan silet dan gunting mulai dari bagian bawah ( anus ) sampai bawah kepala. Setelah itu amati bagian dalam ikan dengan menggunakan pinset agar mudah di dalam pengamatan. Lalu catat hasilnya dan gambar. Pada sisik ikan diamati dengan mikroskop untuk melihat pada struktur ikan.

4.3 Analisis Hasil
Setelah melaksanakan kegiatan praktikum biologi dasar tentang Sistematika, Anatomi dan Morfologi pada Ikan nila diperoleh hasil bahwa tubuh ikan nila terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian kepala (caput), badan (trunchus) dan ekor (caudal).
Tubuh ikan nila juga dipenuhi dengan sisik. Ada beberapa macam sisik yang terdapat pada ikan nila, yaitu sisik stenoid,ganoid., kosmoid dan plakoid. Selain sisik, sirip ikan nila terbagi menjadi empat berdasarkan letaknya. Yang pertama yaitu sirip bagian tubuh ikan (dorsal), sirip ventral yang selalu berpasangan, sirip anal yaitu sirip yang terletak dekat dengan anus dan sirippectoral yang letaknya ada dekat dengan operculum(tutup insang). Selain itu, terdapat juga insang sebagai alat bantu pernapasan. Bagian – bagian insang terdiri dari gilfilamen, gil arch dan gil reker.
Sistem pernapasan pada ikan nila menggunakan insang. Diawali dari oksigen masuk ke dalam tubuh ikan bersamaan dengan masuknya air, menuju ke insang, di dalam insang oksigen akan disaring terlebih dahulu oleh lembar-lembar insang untuk dibedakan antara oksigen dan yang bukan oksigen, seelah itu oksigen dibawa masuk menuju gilfilamen.
Sistem pencernaan pada ikan nila terdiri dari dua bagian yaitu, saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Saluran pencernaan dimulai dari muka ke belakang, yaitu dari mulut, rongga mulut, farings, esophagus, lambung, pylorus, usus, rectum dan berakhir di anus.

BAB V
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan praktikum biologi tentang Sistematika, Anatomi, Fisiologi dan Morfologi pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus) adalah,
1.Ikan nilamerupakan sejenis ikan budidaya yang cukup dikenal baik secara nasional maupun internasional.
2.Ikan nila awalnya diintroduksi dari Afrika, tepatnya Afrika bagian timur
3.Kelebihan – kelebihan yang dimiliki oleh ikan nila yaitu : mudah berkembangbiak, cepat pertumbuhannya, anakmnya banyak, tahan terhadap penyakit dan mudah beradaptasi
4.Sistem pernapasan pada ikan nila menggunakan insang
5.Sistem pencernaan ada dua bagian, yaitu saluan pencernaan dan kelenjar pencernaan
6.Saluran pencernaan dimulai dari mulut, rongga mulut, Farings, esophagus, lambung, pylorus, usus, rectum dan berakhir pada anus

5.2 Saran
Pada kegiatan praktikum ini, sebaiknya alat dan bahan yang akan digunakan di persiapkan terlebih dahulu, agar praktikan dapat berjalan dengan baik. Dan untuk para praktikan agar mempersiapkan diri materi-materi yang akan dipraktekkan, agar dalam kegiatan praktikum tidak terhambat.




BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Tikus (Mus musculus) adalah hewan yang masih satu kerabat dengan tikus liar ataupun tikus rumah. Tikus ini tersebar di seluruh dunia. Tikus ini sering ditemukan di dekat bangunan gedung ataupun di tempat lain, jika terdapat makanan dan tempat berlindung. Tikus ini semuanya berasal mula dari keturunan yang telah ada yaitu keturunan dari tikus liar yamg sudah mengalami peternakan secara selektif. Tikus ini biasanya lebih suka hidup pada tempat yang memiliki suhu lingkungan yang tinggi (Anonymous, 2010).
Tikus atau mencit adalah binatang asli Asia, India, dan Eropa Barat. Jenis ini sekarang ditemukan di seluruh dunia karena pengenalan oleh manusia. Tikus memakan makanan manusia dan barang-barang rumah tangga (Amori,1996).
Tikus atau mencit kadang-kadang disimpan sebagai hewan peliharaan dan mewah.Namun, sebagian besar tikus diperoleh dari peternak hewan laboratorium untuk digunakan dalam penelitian biomedis, pengujian, dan pendidikan. Hal ini dilakukan karena tikus memiliki struktur organ yang hampir sama dengan manusia. Dalam hal genetika, tikus atau mencit ini adalah mamalia dicirikan paling lengkap (Anonymous,2007).
Menurut pendapat saya, tikus rumah ini sekarang umumnya tinggal di dekat dengan manusia, di rumah-rumah, gudang, lumbung dan lahan-lahan yang ditanami. Bahkan populasi hidup tikus ini di hutan jauh lebih sedikit daripada diperumahan-perumahan penduduk.

1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dari praktikum biologi mengenai Sistematika, Anatomi, Fisiologi dan Morfologi pada tikus (mus musculus) yaitu agar praktikan dapat mengetahui tentang bagian-bagian daripada tikus.
Tujuan dari dilaksanakannya praktikum ini adalah agar pra praktikan dapat dan mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan mengenai bagian-bagian daripada Ikan nila.

1.3 Waktu dan Tempat
Praktikum biologi mengenai Sistematika, Anatomi, Fisiologi dan Morfologi pada tikus (mus musculus) ini dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 8 Oktober 2010 pukul 09.45 WIB – 11.15 WIB. Praktikum ini dilakukan di gedung C lantai 1 Laboratorium IIP (Ilmu – Ilmu Perairan), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan , Universitas Brawijaya, Malang.

BAB II
TINJAUN PUSTAKA

2.1 Tikus
Tikus (Mus musculus) adalah hewan yang masih satu kerabat dengan tikus liar ataupun tikus rumah. Tikus ini tersebar di seluruh dunia. Tikus ini sering ditemukan di dekat bangunan gedung ataupun di tempat lain, jika terdapat makanan dan tempat berlindung. Tikus ini semuanya berasal mula dari keturunan yang telah ada yaitu keturunan dari tikus liar yamg sudah mengalami peternakan secara selektif. Tikus ini biasanya lebih suka hidup pada tempat yang memiliki suhu lingkungan yang tinggi (Anonymous, 2010).
Tikus atau mencit adalah binatang asli Asia, India, dan Eropa Barat. Jenis ini sekarang ditemukan di seluruh dunia karena pengenalan oleh manusia. Tikus memakan makanan manusia dan barang-barang rumah tangga (Amori,1996).

2.2.1 Klasifikasi Tikus
Menurut (Anonymous,2010) tikus yang dalam klasifikasinya dimasukan kedalam sub filum vertebrata ( hewan-hewan beruas tulang belakang ), kelas mamalia (hewan- hewan menyusui ), ordo rodentia ( hewan-hewan yang mengerat ) dan family murridae yang merupakan salah satu hama yang penting pada tanaman pertanian (pangan,horticulur,dan perkebunan). Klasifikasi tikus yaitu ;
Kerajaan : Animalia
Fillum : Chordata
Kelas : Mamalia
Ordo : Rodentia
Super family : Muroidae
Familnya : Muridae
Sub suku : Murinae
Genus : Mus
Species : Musculus

2.2.2 Morfologi dan Anatomi Tikus
Tikus rumah memiliki panjang 65-95 mm dari ujung hidung mereka ke ujung tubuh mereka. Bulu mereka berkisar dalam warna dari coklat muda sampai hitam dan pada umunya memiliki warna putih. Tikus memiliki ekor panjang yang memiliki sedikit bulu dan memiliki deretan lingkaran sisik. Tikus rumah cenderung memiliki panjang bulu ekor lebih gelap ketika hidup erat dengan manusia, mereka berkisar 12-30 gram berat badanya. Banyak bentuk-bentuk domestik tikus telah dikembangkan yang bervariasi dalam warna dari putih menjadi hitam dan dangan bintik-bintik. (Syariffauzi, 2009 ).

2.2.3 Sistem Pencernaan
Sistem pencernaan tikus menurut (Uqbal,2007) terdiri atas saluran pencernaan atau kelenjar-kelenjar yang berhubungan, fungsinya untuk :
a). Ingesti dan Digesti makanan.
b). Absorbsi sari makanan.
c). Eliminasi sisa makanan.
Sistem pencernaan pada hewan tikus sama dengan pencernaan pada manusia, karena tikus adalah hewan yang memiliki genetika lengkap dan mempunyai organ yang hampir sama dengan manusia.
1). Pencernaan di mulut dan di rongga mulut,makanan di giling menjadi kecil-kecil oleh gigi dan di basahi oleh saliva.
2). Disalurkan melalui foring dan asophogus.
3). Pencernaan di lambung dan di usus halus. Dalam usus halus diubah menjadi asm-asam amino, monosakarida, gliserida, dan unsur-unsur dasar yang lain.
4). Absorsi air dlam usus besar akibatnya, isi yang tidak dicerna
Menjadi setengah padat (feses).
5). Feces dikeluarkan dari dalam tubuh melalui kloaka (bila ada) kemudian ke anus.

2.2.4 Sistem Ekresi
Sistem ekskresi mamalia hampir sam dengan manusia, tetapi sedikit berbeda yang di sebabkan oleh liingkun tempat tinggalnya. Paru-paru terletak di dalam rongga dada, di lindungi oleh struktur selangka dan di selaputi karung di dinding dikenal sebagai pelura. Bernafas kebanyakan dilakukan olh diagfragama paru-paru berada mengembang. Sangkar selangka juga boleh menguncup sedikit ini menyebabkan udara tertarik ke dalam keluar paru-paru melalui frakhea dan broknial tubes yang bercabang dan mempunyai alveolus di ujung yaitu karung kecil di kapilari yang penuhi darah. disini oksigen meresap banyak masuk kedalam darah, dimana akan di angkut oleh hemoglobin. (Anonymous,2010).

2.2.5 Sistim Reproduksi
Tahap pembentukan spematozoa di bagi atas 3 tahap yaitu :
1. Spermatogenesis.
Meupakan tahap spermatogenea yang mengalami mitosis berkali-kali yang akan menjadi spermatosot primer. Spermatosit primer mengandung kromosom diploid (2n) pada inti sel nya dan mengalami meiosis. Satu spermatosit akan menghasilkan dua sel anak, yaitu spermatosit skunder.
2. Tahapan meiosis
Spermatosid primer, menjauh dari lamina basalis, sitoplasma makin banyak dan segera mengalami meiosis 1, yang kemudian diikuti dengan meiosis 2.
3. Tahapan spermiogenesis
Merupakan transformasi spermatid menjadi spermatozoa yang memiliki 4 fase yaitu fase golgi, fase tulup, fase akrosom, dan fase pematangan. Hasil akhir berupa empat spermatozoa masuk. (Anonymous,2010).

BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum biologi tentang Sistematika, Anatomi, Fisiologi dan Morfologi pada tikus (Mus musculus) adalah,
1. Sectio set
Seperangakat alat bedah untuk membedah tikus.
2. Stereofoam
Untuk alas saat pembedahan tikus
3. Jarum Pentul
Untuk memposisikan tikus saat pembedahan
4. Kain Lap
Untuk membersihkan alat praktikum.
5. Kamera
Untuk mengambil gambar saat praktikum.
6. Nampan
Untuk wadah alat dan bahan.

3.2 Bahan dan Fungsi
Bahan yang digunakan dalam praktikum biologi tentang Sistematika, Anatomi, Fisiologi dan Morfologi pada tikus (Mus musculus) adalah,
1. Tikus
Untuk objek yang akan diamati
2. Chlorofoam
Untuk membius tikus agar mudah dilakukan pembedahan.
3. Kapas
Untuk perantara menggunakan chlorofoam.
4. Tissue
Untuk membersihkan alat praktikum.

3.3 Skema Kerja

Disiapkan alat dan bahan

Dibius tikus menggunakan chlorofoam

Digambar morfologinya

Direntangakn untuk dilakukan pembedahan

Dibedah mulai dari anus samapai leher

Diamati bagian abdominal organ lalu digambar

Diamati system pencernaan tikus

Diamtai system ekskresi

Hasil

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Data Hasil Pengamatn
Data hasil pengamatan dari praktikum biologi tentang struktur anatomi, fisiologi dan morfologi tikus diperoleh hasil sebagai berikut,

4.2 Analisis Prosedur
Sebelum melakukan praktikum disiapkan alat dan bahan , dimana alat – alat yang digunakan adalh section set untuk membedah tikus, nampan untuk wadah alat dan bahan, kain lap untuk membersihkan alat- alat praktikum, jarum pentul untuk mengkondisikan tikus saat dilakukan pembedahan, kamera untuk mengambil gambar saat praktikum.
Bahan yang digunakan adalah tikus untuk diamati, chlorofoam untuk membius tikus yang akan diamati, tissue untuk membersihkan alat alat setelah praktikum, kapas untuk untuk perantara penggunaan chlorofoam.
Sebelum dibedah ambil tikus, ssetelah itu diltakkan di atas meja laboratorium lalu dibius menggunakan larutan chlorofoam yang telah diletakan diatas kapas. Kemudian diamati bagian morfologinya lalu dibedah dengan cara membuka rongga perutnya secara tipis dengan gunting bedah mulai anus sampai kerongkongan sehingga terlihat bagian dalam tubuhnya kemudian diamati bagian dalam organ tubuhnya dana ditulis organ apa saja didalamnya serta fungsi organ tersebut dan ditulis hasilnya.

4.3Analisis Hasil
Pada percobaan dari sitematika, morfologi, anatomi dan fisiologi tikus diperoleh hasil yaitu sebagai berikut. Bahwa tubuh tikus memiliki kesamaan dengan manusia dan tikus merupakan hewan bertulang belakang. Dan praktikum yang dilakukan adalah benar sesuai dengan literature,Tikus merupakan hewan berdarah panas dan memiliki organ tubuh mirip dengan manusia hanya saja jumlah kromosomnya yang berbeda. Tikus hidup dekat dengan manusia dan memiliki tubuh lebih gelap serta ekor lebih panjang dibandingkan dengan tikus yang hidup jauh dari manusia . Tikus hidup berkelompok dan system pernafasannya mirip manusia.Sistem pencernaan tikus yaitu dimulai dari esophagus, kerongkongan, usus halus, lambung, usus besar, dan berlanjut di anus (Anonymous,2010).

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1.Tikus adalah binatang yang masih satu kerabat dengan tikus liar ataupun tikus rumah, asli dai Asia, India, dan Eropa Barat.
2.Tikus mampu beradaptasi secara cepat dengan lingkungan yang ditempatinya.
3.Tikus merupakan hewan yang bertulangbelakang (vertebrata), pemakan segala (omnivore), dan hewan yang berkembangbiak (vivipar).
4.Organ –organ dalam tubuh tikus hamper sama dengan dengan manusia.
5.Sistem pencernaan makanan pada tikus mirip dengan manusia, diawalai dari mulit, kerongkongan, lambung, usus dua belas jari, usus halus, usus besar dan berakhir di anus.

5.2 Saran
Pada kegiatan praktikum ini, sebaiknya alat dan bahan yang akan digunakan di persiapkan terlebih dahulu, agar praktikan dapat berjalan dengan baik. Dan untuk para praktikan agar mempersiapkan diri materi-materi yang akan dipraktekkan, agar dalam kegiatan praktikum tidak terhambat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar